HaltengHukum & KriminalMaluku UtaraNasionalPemerintahanTopik Terkini

Warga Sagea Boikot PT Argo Trans Abadi, Karyawan Terancam di PHK Massal

Aksi Koalisi Save Sagea Boikot Perusahan Tambang PT ATA di Halteng
Aksi Koalisi Save Sagea Boikot Perusahan Tambang PT Argo Trans Abadi di Halmahera Tengah 

HALTENG, TM.com – Koalisi Save Sagea meminta kepada PT Argo Trans Abadi (ATA) menghentikan seluruh aktivitas pertambangan di Desa Sagea dan Desa Kiya, Kabupaten Halmahera Tengah.

Tuntutan tersebut disampaikan karena perusahaan dinilai tidak memenuhi permintaan masyarakat terkait kejelasan berita acara kesepakatan program community development (comdev) PT Zhong Hai, serta tidak transparan dalam menunjukkan izin operasi dan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Aksi unjuk rasa yang digelar Koalisi Save Sagea telah berlangsung selama dua hari berturut-turut. Hal memicu kekhawatiran serius terhadap kariyawan PT Argo Trans Abadi, yang kini terancam pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal.

Para karyawan mengaku tetap bekerja demi keberlangsungan operasional perusahaan, namun menuntut adanya jaminan keselamatan dan keamanan selama bekerja.

Mereka menilai perusahaan tidak cukup hanya mengamankan aset, tetapi juga harus memberikan perhatian serius terhadap perlindungan dan keselamatan tenaga kerja.

“Kami siap bekerja, tapi keselamatan harus dijamin. Jangan hanya aset yang diamankan, karyawan juga harus dilindungi agar pekerjaan bisa terus berjalan dengan aman,” ujar karyawan, Selasa (10/2/2026).

Ancaman PHK massal ini disampaikan langsung oleh Direktur PT ATA, Master Alex, menyusul terhentinya aktivitas kerja akibat aksi warga Sagea hingga menghentikan karyawan saat hendak bekerja atau beroperasi.

Karyawan pun menegaskan agar perusahaan bersikap adil dengan tidak hanya fokus pada pengamanan aset saja. Namun juga memberikan perlindungan penuh kepada para pekerja yang berada di lokasi pekerjaan.

Sementara itu, pihak karyawan juga mengklaim bahwa perusahaan hanya mendatangkan aparat keamanan untuk menjaga aset perusahaan.

Kondisi tersebut membuat karyawan merasa terintimidasi dan ketakutan, terutama saat massa aksi mendatangi area kerja dan meminta aktivitas dihentikan. (tim/red)

 

 

Back to top button